Idealnya, Kita Butuh Berapa Banyak Messenger Group?

waJaman serba smartphone kayak gini, yang namanya messenger penting yes? Ada banyak aplikasi messenger yang bisa diinstal di playstore tinggal pilih. Saya sendiri punya 3 aplikasi messenger di smartphone saya, yaitu BBM (iyes, saya masih pakai BBM dong), Whatsapp, dan Telegram. Masing-masing punya STPnya. Halah

BBM. Kalau ada yang tanya kenapa saya masih pakai BBM? Jawaban saya, kenapa tidak? Tidak ada yang salah dengan BBM, saya sudah menggunakan BBM sejak pertama kali punya smartphone tahun 2009 sampai sekarang, dengan devices yang berbeda. Saya merasa nyaman kok. Ibarat pacar, BBM adalah pacar pertama yang sayang untuk diputuskan. Lalu berturut-turut saya menambahkan Whatsapp dan Telegram.

Permasalahannya adalah, semakin banyak messenger, semakin banyak messenger grup mengikutinya. Betul tidak? Untuk BBM sendiri, ada 2 grup BBM di list saya. Yang pertama group mamah cantik kompleks perumahan saya, dan yang satunya grup online shop batik. Untungnya dua grup ini jarang aktif. Sementara untuk Whatsapp Messenger, saya tergabung dalam 14 group. Iya 14 group WA! Banyak yes? Grup apa saja? Ada WA grup kantor, WA grup jalan-jalan, WA grup keluarga, WA grup ibadah, ada WA grup project, WA grup alumni, WA grup komunitas dan masih banyak lagi. Belum lagi telegram.

Pertanyaannya adalah, apakah tidak terganggu? Tidak. Saya tidak merasa terganggu dengan keberadaan grup tersebut, meski diantara messenger grup yang ada, isinya kadang-kadang lame, norak, membosankan, dan bikin jengkel. Buat saya masing-masing grup messenger itu penting. Misalnya messenger grup keluarga, meski kadang isinya motivasi, ayat alkitab, gambar-gambar ga jelas, guyon yang ga lucu, tetapi di balik itu saya bisa tetep berkomunikasi dengan saudara-saudara yang tinggalnya berjauhan, mengetahui kabar masing-masing, bisa ikut mendoakan kalau ada yang sakit, dll. Sementara grup kantor, jelas penting. Segala informasi terkait dengan pekerjaan dikomunikasikan melalui messenger, jadi grup ini wajib untuk tidak ditinggalkan. Grup-grup messenger yang lain bagaimana? Ah, saya bilang semua punya keunikan dan keasyikannya sendiri. Ada satu grup messenger remeh temeh yang justru bisa jadi hiburan kalo saya ga bisa tidur. Grup ini benar-benar membahas hal remeh-temeh. Tema obrolan bisa berganti dalam 1 menit. Kapan hari malah pernah membahas tentang musik dan film tahun 80-90an sampai hampir jam 2 dini hari. Remeh ya?

Apakah ga sayang baterai smartphone? Jelas sayang. Tapi kan di setiap messenger ada pengaturan yang bisa disesuaikan. Hampir semua grup messenger saya atur tidak ada notifikasi dan tanpa bunyi. Saya akan akses kalau saya pengen akses, kecuali untuk grup messenger kantor. Meski saya juga ga yakin, apakah dengan pengaturan seperti itu bisa membuat baterai sedikit tahan lama. Saya juga meletakkan prioritas pada masing-masing grup messenger sesuai dengan kebutuhan. Nanti kan enak aja. Ga ada ceritanya jengkel karena traffic grup yang ga mandeg-mandeg, atau sebel karena isinya ga penting.

Cuma ya ga semua orang se-selo saya yang bisa ngrumati grup messenger dengan bahagia. Nah ini kemudian jadi pertanyaan saya lagi. Duh saya kebanyakan nanya ya? Idealnya kita butuh berapa banyak grup messenger sih? Ada yang bisa jawab?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s