Penang (1), Dari Campbell Street Sampai Ke Pasar Ayar

Penang. Begitu menginjakkan kaki di Penang International Airport, saya sudah langsung jatuh cinta. Kebetulah hari itu hujan. Pukul 17.00 waktu setempat dan kami (saya dan teman) harus bergegas menuju kota sebelum hujan bertambah deras. Di antara sekian banyak moda transportasi, pilihan kami jatuh pada transpotasi umum alias rapid bus. Dengan harga tiket sebesar, RM 2,70 per orang, kami naik rapid bus menuju George Town. Perjalanan dari bandara menuju Penang seharusnya memakan waktu antara 45 menit – 1 jam ternyata harus ditempuh lebih lama karena macet. Iya macet, karena kebetulan bersamaaan dengan jam pulang kerja. Ternyata Penang bisa macet juga.

Penang, I'm Coming

Penang, I’m Coming

Penang adalah sebuah kota kepulauan yang sangat cantik (menurut saya). Ambiencenya berbeda dari kota kota di Malaysia yang sebelumnya kami kunjungi dalam perjalanan ini, seperti Johor Baru dan Kuala Lumpur. Meskipun menduduki peringkat pertama dalam urusan kepadatan penduduk, buat saya Penang tidaklah sehectic Jakarta atau Kuala Lumpur. Kehidupan di sini berjalan begitu tenang. Oleh karena itu ketika terjebak macetpun, saya masih bisa menikmatinya dengan nyaman, selain karena rapid bus yang saya tumpangi berAC, kendaraan di sekitarnya tidak bising dengan suara klakson yang bersahut-sahutan.

Penginapan

Setibanya di Komtar, pemberhentian terakhir bus, saya bergegas menuju lokasi penginapan. Waktu menunjukkan pukul 20.00 malam dan hujan makin deras. Karena tidak memungkinkan untuk berjalan kaki di tengah deras hujan, maka diputuskanlah untuk menggunakan taksi yang ternyata hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai di penginapan. Ga worth sama sekali dengan RM yang harus dikeluarkan. Oiya, sebelum berangkat, saya sudah menuntaskan segala urusan tiket dan akomodasi selama di Penang, mengingat kami akan tinggal di Penang selama 3 hari dua malam. Sebagaimana rekomendasi yang sudah didengar dan baca, pilihan penginapan jatuh di daerah George Town, bernama Hutton Mansion. Penginapan kecil namun cukup bersih. Pemiliknya adalah orang Melayu yang pernah tinggal di Medan cukup lama. Setelah menuntaskan urusan check in, saya memutuskan untuk memejamkan mata sesegera mungkin, karena besuk pagi ada banyak tempat yang harus dikujungi.

Penginapan Hutton

Penginapan Hutton

Campbell Street

Jika ditanya ada apa di Penang, ada banyak! Beruntung, penginapan menyediakan peta gratis Penang plus rute bis. Namun sebelum memulai tour, saya mengunjungi kawasan pecinan terlebih dulu, tujuannya tak lain dan tak bukan adalah berburu sarapan. Pepatah lama mengatakan bahwa, jika berada di tempat baru, jangan lupa untuk mampir ke Pecinan, karena di sana kamu akan menemukan makanan lezat dengan harga cukup murah. Kawasan Pecinan di sini bernama Lebuh Campbell atau Campbell Street. Setelah berkeliling cukup lama, pilihan jatuh pada sebuah kedai yang menyajikan berbagai macam food stall berjenis mie. Saya memilih mie hitam seharga RM 3,50 dan teman saya memilih curry mie dengan harga yang sama. Rata-rata harga makanan di kedai tersebut adalah RM 3,50 lengkap dengan segelas teh tarik. Jadi sekitar 15 ribu saja. Cukup murah ya?

Medan Lebuh Campbell

Medan Lebuh Campbell

Bukit Bendera

Setelah sarapan, perjalanan menyusuri Penang dimulai. Tujuan kali ini adalah Bukit Bendera alias Penang Hill. Dari Komtar ada rapid bus nomer 204 dengan rute Komtar – Bukit Bendera. Cukup membayar RM2,70 sudah bisa menikmati perjalanan selama 40 menit menuju Bukit Bendera. Janga kuatir nyasar, karena rapid bus tersebut perhentian terakhirnya adalah di Bukit Bendera.  Oiya sebelum cerita tentang Bukit Bendera, saya mau cerita tentang Komtar. Komtar adalah stasiun Rapid Penang, di sinilah tempat berkumpulnya rapid bus Penang ke semua tujuan. Terletak di kompleks Lorong Komtar, stasiun bus dilengkapi dengan papan LED yang menunjukkan line bus apa saja ke berbagai tujuan. Jika masih bingung dengan informasi yang disajikan, ada banyak orang di sana yang cukup ramah untuk memberikan bantuan. Semua rapid bus Penang dilengkapi dengan AC, dan dalam kondisi yang baik. Sediakan selalu uang pas, karena kadang-kadang sopir tidak memiliki uang kembalian sehingga mau tidak mau harus merelakan tidak mendapatkan uang kembalian.

Hore Naik Trem

Hore Naik Trem

View from Top

View from Top

Oke, kembali ke Bukit Bendera. Konon katanya Bukit Bendera adalah tempat wajib kunjung di Penang. Ada dua cara untuk bisa sampe di Puncak Bukit Bendera, dengan tracking dan trem. Demi efiensi waktu saya memilih untuk naik trem saja. Harganya cukup mahal RM30. Antrian hari itu cukup panjang, butuh beberapa kali antrian untuk akhirnya bisa menaiki trem tersebut. Usahakan ketika naik, memilih tempat paling belakang karena akan mendapatkan pemandangan sepanjang jalan yang memanjakan mata. Begitu juga sebaliknya. Dari atas Bukit Bendera kita bisa melihat Penang lebih luas, jika ingin bisa melihat lebih jelas, ada teropong yang bisa digunakan. Harganya Cuma RM1. Selain itu di atas Bukit Bendera ada Gembok Cinta dan Kuil Hindu yang bisa dikunjungi juga. Gembok Cinta merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi anak muda. Karena saya merasa bagian dari anak muda, maka saya pun ikut dengan keriaan untuk berfoto-foto di Gembok Cinta tersebut.

Konon Katanya Ini Gembok Cinta

Konon Katanya Ini Gembok Cinta

Setelah kurang lebih 1 jam berada di atas, saya memutuskan untuk turun, dengan menaiki rapid bus yang sama seperti ketika berangkat tadi. Di tengah jalan, saya dan teman memutuskan untuk turun di Pasar Ayar, karena mendadak dalam perjalanan saya membaca signage Kek Lok Si Temple. Maklum saja, perjalanan kali ini adalah perjalanan tanpa itinerary, sehingga apa yang dikunjungi bisa beragam. Rupanya dari Pasar Ayar, masih harus berjalan lumayan jauh sekitar 500 meter untuk sampai di gerbang masuk tersebut. Dari gerbang masuk masih harus menaiki tangga yang jumlahnya mungkin lebih dari 1000. Di tengah jalan saya mendadak menyesal mengapa harus mampir ke sini, karena rasanya tangga yang dilewati tak berujung. Untungnya sih, untuk bisa sampai di Kek Lok Si Temple tidak dipungut biaya se RMpun kecuali ingin naik ke patung Budha yang di atas.  Setelah puas mengelilingi kuil, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke George Town saja. Masih ada beberapa tempat yang ingin dikunjungi seperti Fort Cornwallis, Gereja St Peter, dan mural.  Sebelum pulang, tentu saja tidak lupa mengisi perut yang ternyata sudah keroncongan sejak turun dari Bukit Bendera. Kebetulan banyak sekali kedai di sekitar Pasar Ayar, tinggal memilih yang sesuai selera dan budget.

Kek Lok Si Temple

Kek Lok Si Temple

Wishing Ribbons

Wishing Ribbons

Oiya, untuk menyusuri Bukit Bendera dan Kek Lok Si Temple, pastikan memakai baju yang nyaman dan menyerap keringat, alas kaki yang enak dipakai kalau bisa empuk, dan bekal air minum yang cukup karena selain harus berjalan kaki cukup lama, udara Penang ternyata cukup panas dan kering, jangan sampai dehidrasi di jalan. Apalagi jika ternyata plesirannya harus berjalan kaki sejauh 20KM. Nah perihal 20 KM ini nanti sajalah saya ceritakan di postingan selanjutnya

Advertisements

2 thoughts on “Penang (1), Dari Campbell Street Sampai Ke Pasar Ayar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s