Zero

Segala sesuatunya menjadi lebih mudah ketika kita muda. Penggalan kalimat ini pernah saya dengar dari seorang teman bertahun lalu. Kapan tepatnya saya lupa. Mungkin 3-4 tahun lalu ketika kami menyadari bahwa tantangan seiring dengan pertambahan usia semakin luar biasa.

Berbicara tentang tantangan hidup, tahun 2015 kemarin bukanlah tahun favorit saya. Tahun 2015 saya jalani dengan cukup tertatih sampai di akhir tahun. Bulan Desember adalah bulan terberat, ada banyak hal terjadi, menimbulkan luka batin. Paling memilukan adalah ketika kita harus berhadapan dengan sebuah kehilangan. Tapi apa sebenarnya yang membuat kehilangan itu terasa menyakitkan sebenarnya?

Ada banyak jawaban, ada beragam teori yang sering kita dengar, ada rupa-rupa kata penguat yang bertebaran. Yang paling sering kita amini adalah ‘kehilangan menjadi begitu sakit karena kita menggenggamnya terlalu kuat”

Berhadapan dengan kehilangan tidak pernah mudah bagi siapapun, begitu juga saya. Biasanya kita cenderung menyalahkan orang lain sebagai penyebab kehilangan. Saya pun. Saya menyalahkan seseorang akan kehilangan yang harus saya alami. Saya menginginkan dia juga menanggung rasa sakit akan rasa kehilangan tersebut. Lantas apakah kemudian sakit itu bisa menghilang setelah kita menyalahkan orang lain? Jawabannya tidak.

Saya belajar satu hal. Bahwa penerimaan merupakan kunci kehilangan menjadi lebih bisa untuk dijalani. Bukan jauh lebih mudah, apalagi ikhlas. Tidak sama sekali. Sampai tahun berganti saya belum juga lulus ilmu ikhlas. Kalau mengingat masih terasa menyesakkan. Bikin nangis, bikin ulu hati sakit, dan membuat saya tidak bisa makan berhari-hari, bikin saya terkena infeksi pencernaan.  Tetapi saya juga tidak mau melupakan, karena buat saya melupakan kehilangan, artinya saya hanya merepresi dan memaksa perasaan itu untuk turun kebawah alam sadar  dan akan bisa muncul kapan saja serta menimbulkan lubang yang semakin parah nantinya.

Bagaimana kita bisa menerima? Lagi-lagi jawaban yang terpaksa harus saya berikan, klise. Memaafkan. Bukan orang lain yang perlu kita maafkan, tetapi diri sendiri. Tidak mudah! Memang, saya pun mengakuinya, tidak mudah, apalagi memaafkan kebodohan yang kita buat. Akan berkali-kali pula kita menyangkal, akan berkali-kali pula kita meratap, merasa tersiksa, ngenest, dan merasa menjadi korban. Tetapi hey, itu yang harus dilakukan. Cobalah untuk memaafkan diri sendiri, karena seperti yang dikatakan oleh seseorang bernama Dr. Steve Maraboll, “forgiveness is reflection of loving yourself enough to move on”. Bukankah kita harus mencintai diri kita sendiri terlebih dulu? When we fall in love ourself first, and everything falls in life. Dan move on menjadi hal yang sangat mungkin untuk dilakukan. Lalu semua menjadi masuk akal, semua bisa diawali kembali.

Di hari ke-19 tahun 2016, saya kembali memulai dari nol. Zero! Sekali lagi tidak mudah. Arh, siyal kali ini saya terpaksa menyetujui ucapan teman saya, bahwa makin menua hidup yang dijalani makin tidak mudah. Di usia hampir 35 tahun dan kamu harus kembali membangun mimpimu dari nol, orang gila mana yang mau melakukannya? Tetapi ini yang harus dilakukan. Saya hidup di dunia nyata, dunia di mana tidak ada prince charming yang akan menyelamatkanmu dengan kuda putih, dunia di mana kamu akan bisa dengan gampang diabaikan oleh orang yang paling kamu cintai, dunia di mana sebuah pengorbanan yang dilakukan tidak berarti apa-apa buat orang lain. Dan lagi-lagi, tidak mudah. Namun bukan berarti tidak bisa untuk dilakukan bukan?

Di tahun 2016 ini pula, saya memutuskan untuk memulai dari nol kembali untuk bisa membuat diri saya kembali waras dengan ….MENULIS.

 

Love,

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s