Biar Jempolmu Ngga Jadi #JempolMurahan

Pernah dalam situasi jadi public enemy di whatsapp group? Saya sering! Apa pasal?

Karena saya lumayan galak sama teman-teman di WA group kalau mereka share informasi ataupun video atau apapun tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Saya tidak segan meminta mereka untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum share informasi. Apakah informasi tersebut berasal dari sumber yang kredibel  dan dapat dibuktikan kebenarannya atau tidak?

Akan fatal sekali akibatnya kalau informasi yang keliru kadung beredar dan menjadi viral karena kita tidak cukup bijaksana untuk menyaring informasi dan menjaga jempol agar tidak jadi #JempolMurahan. Sudah banyak contoh, salah satunya adalah unggahan video yang sempat viral di media sosial kemarin, tentang kakak adik yang disalah persepesikan melakukan aksi yang tidak lazim. Setelah membagi informasi keliru, kemudian meminta maaf. Gampang ya? Rasanya saya pengen banget mengutip komentar Tao Mingse dari serial Meteor Garden, kalau minta maaf berguna, buat apa ada polisi? 

Kasus di atas sempat jadi obrolan seru di Whatsapp Group (mantan) blogger Loenpia. Berbagai reaksi muncul, rata-rata gemas terhadap unggahan video tersebut. Dari sinilah kemudian muncul istilah Jempol Murahan yang merujuk pada mereka yang mudah sekali untuk menyebarkan sesuatu tanpa melakukan cek dan ricek di media sosial.

Continue reading

Advertisements